RSS

Filsafat Pendidikan

25 Nov
  1. Tujuan pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dari dulu sampai sekarang karena kemajuan dari negara itu baik dari segi teknologi maupun dari sumberdaya manusianya yang semakin maju. Contohnya dulu pada zaman penjajahan bangsa Indonesia menempuh pendidikan itu hanya untuk bisa membaca dan menulis, jadi tujuan pendidikan itu hanya untuk dapat membaca dan menulis. Sedangkan zaman sekarang tujuan pendidikan mengalami perubahan besar. Pendidikan sekarang mempunyai tujuan bukan hanya untuk dapat membaca dan menulis saja tetapi harus dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi dan harus dapat mengaplikasikan Ilmunya yang didapat selama menempuh pedidikan.

Hal ini juga disebabkan oleh perkembangan undang-undang pendidikan dari masa orde lama sampai masa orde baru sampai sekarang terus mengalami revisi.

Adapun tujuan pendidikan sekarang adalah

Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT (Life Long Education)

Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang: (1) usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi, (2) usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugsnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar negeri ,(3) usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN KASIH SAYANG

Adapun implementasi asas pendidikan kasih sayang menciptakan dan membina kasih sayang antara pendidik dan peserta didik, selain memelihara hubungan yang harmonis, terutama juga membina dan menumbuhkan kasih sayang dalam diri peserta didik sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa, seogianya diwarisi oleh setiap individu sebagai ciptaan Tuhan. Asas kasih sayang memilki makna yang sangat berarti dalam proses kegiatan pendidikan yang dilandasi oleh tanggung jawab menciptakan dan membina sumber daya manusia yang berperilaku berpijak pada kasih sayang.

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN ASAS DEMOKRASI

Penerapan demokrasi sebagai salah satu asas dalam praktek pelaksanaan pendidikan menjadi sarana serta wadah pembinaan peserta didik menjadi manusia yang demokratis sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga negara serta kedudukannya sebagai umat manusia yang beradab.

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN KETERBUKAAN DAN TRANSPARANSI

Pengembangan dan penerapan asas keterbukaan dan transparansi dalam proses pelaksanaan kegiatan pendidikan, berarti bahwa program, kebijakan, dukungan, dan perangkat-perangkat lainnya, harus didasari oleh kejujuran, tidak ada yang ditutup-tutupi serta tidak ada kebohongan. Dengan demikian, segala kegiatan, penerimaan, pengangkatan, kebijakan, program, dan keputusan yang menyangkut pendidikan, harus berasaskan keterbukaan dan transparansi, tidak dicemari oleh kebohohongan.

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN ASAS TANGGUNG JAWAB

Aktualitas dari pengembangan dan penerapan asas tanggung jawab dalam proses pelaksanaan kegiatan pendidikan akan tercermin dalam pemilihan dan penetapan materi, metode, strategi, pelaksanaan, hubungan pendidik dan peserta didik, sampai pada evaluasi, harus bersumber dan bermuara kepada pencapaian tujuan pendidika atau pembelajaran.

IMPLEMENTASI ASAS PENDIDIKAN ASAS KUALITAS

Keterkaitan pengembangan dan penerapan asas-asas pendidikan yang ada mewujudkan terbentuknya sumber daya manusia yang mempunyai kualitas yang baik dan bermutu dan juga membentuk sumber daya manusia yang manusiawi.

  1. Alasan saya memilih profesi sebagai guru :

Jujur dari lubuk hati aku yang paling dalam saya terdorong untuk memilih profesi sebagai guru, pertama sekali dari orang tua saya  katanya karena guru mempunyai masa depan yang cerah untuk lima tahun kedepan. Gaji guru yang menjanjikan begitu juga dengan undang-undang yang telah dibuat mengenai kesejahteraan guru. Saya juga tertarik akan frofesi guru yang sangat mulia yang menjadikan kehidupan bangsa ini akan menjadi lebih baik. Profesi guru juga kalau dibandikan dengan karyawan yang bekerja di perusahaan juga dilihat dari jam kerja guru lebih memiliki waktu yang lebih sedikit sehingga kelak nanti jika sudah berkeluarga  waktu untuk kumpul dengan keluarga juga lebih banyak. Dan juga saya pernah membaca buku bahwa guru di luar negeri itu lebih tinggi derajat nya dibanding dengan profesi lainnya. Tetapi entah kenapa di Indonesia profesi guru dianggap remeh. demikianlah hal-hal yang mendorong saya untuk memilih profesi sebagai guru. Hidup… Guru

BAB I

PENDAHULUAN

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja kepada anak dalam pertumbuhan jasmani maupun rohaninya untuk mencapai tingkat dewasa. Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Jadi Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

  1. Aliran-aliran Pendidikan

Dalam filsafat terdapat berbagai aliran; sehubungan dengan itu maka dalam filsafat pendidikanpun terdapat berbagai aliran sesuai dengan aliran yang ada dalam filsafat. Berikut ini akan diuraikan berbagai aliran filsafat pendidikan.

  1. 1. Filsafat Pendidikan Idealisme

Idealisme berpendirian, bahwa kenyataan tersusun atas gagasan-gagasan (ide) atau spirit. Segala benda yang nampak berhubungan dengan kejiwaan dan segala aktivitas adalah aktiviatas kejiwaan. Dunia ini dipandang bukan hanya sebagai mekanisme, tetapi dipandang sebagai sistim, dunia adalah keseluruhan (totalitas)

Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar.

Aliran idealisme kenyataanya tidak terpisahkan dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita ; pertama, yang nampak yang nampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku mahluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan ada yang pergi, ada yang hidup dan ada yang mati, demikian seterusnya. Kedua adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna ( idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak karena idea merupakan wujud yang hakiki.

Menurut paham idealisme, guru harus membimbing atau mendiskusikan dengan peserta didik bukan prinsip-prinsip eksternal, melainkan kemungkinan-kemungkinan( batin) yang perlu dikembangkan, juga harus diwujudkan sedapat mungkin watak yang terbaik.

  1. 2. Filsafat Pendidikan Realisme

Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

Sistem kefilsafatan realisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara, ada hal-hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri, dan yang  hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang. Defenisi kebenaran menurut penganut realisme adalah ukuran kebenaran suatu gagasan mengenai barang sesuatu adalah menentukan apakah gagasan itu benar-benar memberikan pengetahuan kepada kita mengenai barang sesuatu itu yang senyatanya dengan bagaimanakah tampaknya barang sesuatu itu. Kita akan mengetahui apakah barang iitu secara langsung maupun dengan jalan menyimpulkannya dari yang menampak.

  1. 3. Filsafat Pendidikan Materialisme

Aliran Materialisme  adalah suatu aliiran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan, dimana benda merupakan sumber segalanya, sedangkan yang dikatakan materialistis memetingkan kebendaan menurut materialisme.

Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

  1. 4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sander Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

Pragmatisme berasal dari kata pagma yang berarti praktik atau aku berbuat. Hal ini mengandung arti bahwa makna dari segala sesuatu yang tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Manusia dan lingkungan berdampingan, dan mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap realitas. Realitas adalah apa yang dapat dialami dan diamati secara indera.

Pendidikan menurut pandangan pragmatisme bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan-kekuatan laten dengan sendirinya, melainkan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekontruksi dari pengalaman-pengalaman individu; yang berarti bahwa setiap manusia selalu belajar dari pengalamannya.

  1. 5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Eksistensi adalah cara manusia ada di dunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya materi-materi

Sikun Pribadi 1971 (sadulloh 2003) mengemukakan bahwa eksistensialisme dengan pendidikan sangat berhubungan erat, karena keduanya sama-sama membahas masalah yang sama yakni manusia. Hubuangan antar manusia, hidup, hakikat kepribadian, dan kebebasan.

  1. 6. Filsafat Pendidikan Progresivisme

Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Oleh sebab itu, peserta didik bukan dipersiapkan untuk menghidupi kehidupan masa kini, melainkan mereka harus dipersiapkan menghadapi kehidupan dimasa yang akan datang.

  1. 7. Filsafat Pendidikan Paranealisme

Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.

Parenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas yang pertama-tama dari filsafat dan filsafat pendidikan.

  1. 8. Filsafat Pendidikan Esensialisme

Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.

  1. 9. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.

BAB II

TINJAUAN KONSEP PELAKSANAAN PENDIDIKAN MENURUT BERBAGAI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

  1. 1. Aliran Filsafat Pendidikan Idealisme
  2. Tujuan Pendidikan

Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial

  1. Kedudukan Peserta Didik’

Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya / bakatnya

  1. Peranan Guru

Bekerja sama dengan alam dalam proses pengembangan manusia, terutama bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan peserta didik

  1. Kurikulum

Pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan rasional dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan

  1. Metode

Diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan.

  1. 2. Aliran Filsafat Pendidikan
  2. Tujuan Pendidikan

Pendidikan bertujuan untuk penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial

  1. Kedudukan Peserta Didik

Dalam pembelajaran apeserta didik menguasai pengetahuan yang handal, dapat dipercaya. Disiplin adalah peraturan yang baik untuk menunjang pelaksanaan  pendidikan

  1. Peranaan Guru

Guru harus menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan keras menuntut prestasi dari peserta didik

  1. Kurikulum

kurikulum harus komprehensif, mencakup semua pengetahuan yang berguna teori dan praktis

  1. Metode

Belajar tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak langsung. metode penyampaian harus logis dan psikologis.

  1. 3. Aliran Filsafat Pendidikan
  2. Tema

Manusia yang baik dan efisien diahsilkan dengan proses pendidikan terkontrol secara ilmiah dan seksama

  1. Tujuan Perdidikan

Perubahan perilaku, mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya unutk tanggung jawab hidup sosial dan pribadi yang kompleks

  1. Kurikulum

Isi pendidikan mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya (handal) dan diorganisasi, selalu berhubungan dengan sasaran perilaku.

  1. Metode

Semua pelajaran dihasilkan dengan kondisionisasi (SR conditioning), operant conditioning, reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetensi.

  1. Kedukan Peserta didik

Tidak ada kebebasan. Perilaku ditentukan oleh kekuatan dari luar. Peserta didik dipersiapkan untuk hidup. Pelajaran sudah dirancang dan peserta didik dituntut untuk belajar

  1. Peranan Guru

Guru memiliki memiliki kekuasaan untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan (pembelajaran). Guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar peserta didik.

  1. 4. Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme
  2. Tujuan Pendidikan

Memberi pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dam pribadi

  1. Kedudukan Peserta Didik

Manusia memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang

  1. Kurikulum

Kurikulum beriisi pengalaman yang teruji dan dapat berubah. kurikulum dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan peserta didik.

  1. Metode

Pendekatan pembelajaran yang terutama digunakan adalah belajar sambil bekerja; peserta didik aktif dalam pembelajaran

  1. Peran Guru

Guru berperan memfasilitasi, mendorong, mengarahkan dan membimbing peserta didik mengalami pembelajaran tanpa ada unsure paksaan, harus sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

  1. 5. Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
  2. Tujuan Pendidikan

Pendidikan memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan

  1. Status Peserta Didik

Peserta didik adalah manusia yang rasional, bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Menumbuhkan komitmen akan pemenuhan tujuan pribadi.

  1. Kurikulum

Kurikulum bersifat liberal yakni, memiliki kebebasan memilih dan menentukan aturan-aturan serta pengalaman belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik dan makna dari kehidupan mereka. Di sekolah dibina agar terbentuk pada diri peserta didik rasa hormat (respek), Respek terhadap kebebasan bagi yang lain seperti dalam dirinya; karena itu diajarkan pendidikan sosial

  1. Peranan Guru

Guru berperan melindungi dan memlihara kebebasan akademik, tidak jarang terjadi bahwa mungkin sesorang pada hari ini adalah guru , besok lusa mungkin jadi pesertan didik.

  1. Metode

yang diutamakan adalah praktek pembelajaran adalah pencapaian tujuan yakni mencapai kebahagiaan dan kepribadian yang baik, sedangkan metode merupakan cara untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu penggunaan metode tidak terlalu dipikirkan secara mendalam.

  1. 6. Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme
  2. Tujuan Pendidikan

pendidikan Bertujuan untuk membina peserta didik berpikir rasional sehingga menjadi manusia yang cerdas yang berkontribusi pada masyarakat.

  1. Status Peserta Didik

Peserta didik mempelajari nilai-nilai personal dan sosial di sekolah

  1. Kurikulum

Pengajaran efektif adalah apabila memperlakukan peserta didik sebagai keseluruhan dan miant-minat serta kebutuhan-kebutuhan dihubungkan dengan bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.

  1. Peran Guru

Guru atau pendidik harus berperan sebagai pembimbing dan fasilitator agar peserta didik terdorong dan terbantu untuk mempelajari dan memiliki pengalaman tentang hal-hal yang peenting bagi kehidupan mereka, bukan memberikan sejumlah kebenaran yang disebut abadi.

  1. 7. Aliran Filsafat Pendidikan Parenialisme
    1. Tujuan Pendidikan

Pendidikan memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasti dan abadi.

  1. Status Peserta Didik

Peserta didik adalah manusia yang rasional, bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Menumbuhkan komitmen akan pemenuhan tujuan pribadi.

  1. Kurikulum

Kurikulum bersifat liberal yakni, memiliki kebebasan memilih dan menentukan aturan-aturan serta pengalaman belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik dan makna dari kehidupan mereka. Di sekolah dibina agar terbentuk pada diri peserta didik rasa hormat (respek), Respek terhadap kebebasan bagi yang lain seperti dalam dirinya; karena itu diajarkan pendidikan sosial

  1. Peranan Guru

Guru berperan melindungi dan memlihara kebebasan akademik, tidak jarang terjadi bahwa mungkin sesorang pada hari ini adalah guru , besok lusa mungkin jadi peserta didik.

8. Aliran Filsafat Pendidikan Esensialisme

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan akhir pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan atau kebahagian sesuai dengan tuntutan demokrasi

b.    Status Peserta Didik

Peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki kemampuan yang dapat berkembang dengan baik apabila dilibatkan secara aktif dan dengan penuh semangat dan motivasi dalam aktivitas pembelajaran.

c. Kurikulum

Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berhitung dan berbicara, terutama dikembangkan dalam pendidikan dasar.

  1. Peranan Guru

Guru berperan menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia peserta didik, karena itu kendali pelaksanaan pembelajaran ada pada guru atau pendidik

e.   Metode

Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan metode yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah. Pengikut Esensialisme mengakui bahwa problem solving atau metode pemecahan masalah ada mamfaatnya, namun tidak perlu dilaksanakan dalam setiap pembelajaran, karena pengetahuan tidakk selalu didasarkan atas fakta-fakta, tetapi banyak yang abstrak sehingga tidak dapat dipecahkan ke dalam masalah-masalah konkrit.

9. Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik akan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia bukan hanya nasional, regional, akan tetapi juga secara global.

  1. Status Peserta Didik

Nilai-nilai budaya peserta didik yang dibawa ke sekolah sangat dihargai, dan keluluhan pribadi dan tanggung jawab sosial yang ditingkatkan.

  1. Kurikulum

Kurikulum disekolah harus diwarnai oleh semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan dengan sekolah, tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas atau budaya yang ditentukan atau disukai

  1. Peranan Guru

Guru memegang peranan penting dalam pendidikan di sekolah akan tetapi dalam pelaksanaan tugasnya harus selalu memperhatikan prosedur yang demokratis

e.   Metode

Belajar sambil bekerja ( learning by doing) adalah salah satu metode yang diakui dapat digunakan disamping metode-metode yang digunakan dalam pendidikan progresif.

BAB III

TINJAUAN KONSEP PELAKSANAAN PENDIDIKAN MENURUT BERBAGAI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN YANG BERLANGSUNG DI SEKOLAH SMK NEGERI 2 MEDAN

  1. 1. Aliran Filsafat Pendidikan Idealisme

Hasil tinjauan menunjukkan bahwa sekolah SMK NEGERI 2 Medan menerapkan aliran filsafat pendidikan Idealisme dimana kedudukan peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuannya

  1. 2. Aliran Filsafat Pendidikan Realisme

Sekolah sedikit sudah menerapkan aliran ini. Dikatakan demikian karena sekolah sudah menerapkan metode belajar yang sesuai dengan aliran filsafat pendidikan Realisme yakni metode belajar yang tergantung dari pengalaman, baik langsung atau tidak langsung. Metode penyampainnya harus logis dan psikologis.

  1. 3. Aliran Filsafat Pendidikan Materialisme

Tinjauan pelaksanaan  pendidikan menurut aliran ini tidak diterapkan di sekolah ini karena menurut aliran ini peserta didik tidak diberi kebebasan mengeluarkan ide-ide.

  1. 4. Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Menurut tinjauan sekolah sudah menerapkan sedikit banyaknya aliran ini. karena guru tidak boleh memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan peserta didik. Guru berperan memfasilitasi, mendorong, mengarahkan dan membimbing peserta didik mengalami pembelajaran tanpa ada unsur paksaan , harus sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

5.   Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Aliran ini sudah diterapkan di sekolah yakni peserta didik bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Guru berperan melindungi dan memlihara kebebasan akademik, tidak jarang terjadi bahwa mungkin sesorang pada hari ini adalah guru , besok lusa mungkin jadi pesertan didik.

6.   Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme

Tinjauan penerapan disekolah bahwa aliran ini sudah diterapkan pengajaran efektif adalah apabila memperlakukan peserta didik sebagai keseluruhan dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dihubungkan dengan bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.

7.   Aliran Filsafat Pendidikan Pareanialisme

Aliran ini tidak diterapkan di sekolah karena menurut aliran ini bahwa peserta didik harus mempelajari karya-karya besar dalam literatur yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, kehidupan sosial terutama politik dan ekonomi sedangkan di sekolah SMK Negeri 2 tidak mempelajari ini.

8.   Aliran Filsafat Pendidikan Esensialisme

Aliran ini tidak diterapkan di sekolah karena menurut aliran ini tujuan akhir pendidikan adalah meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan sesuai dengan tuntutan demokrasi.

9.  Aliran Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme

Menurut tinjauan ke sekolah bahwa sekolah tidak menerapkan nilai-nilai budaya peserta didik yang dibawa ke sekolah sangat dihargai dan keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial.

BAB IV

TINJAUAN PENERAPAN KONSEP ALIRAN FILASAFAT PENDIDIKAN DALAM PRAKTEK PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH SMK NEGERI 2 MEDAN

Berdasarkan tinjauan kami ke SMK NEGERI 2 MEDAN bahwa konsep penerapan penerapan konsep aliran filasafat pendidikan dalam praktek pelaksanaan pendidikan di sekolah ini yakni

1. Aliran Filsafat Pendidikan Idealisme

Dikatakan demikian karena dalam sekolah ini mengembangkan gagasan atau ide-ide. Dengan kata lain bahwa idea tau gagasan-gagasan itu sangant dijunjung tinggi dan kedudukan  peserta didik bebas untuk mengembangkan kpribadian dan kemapuan dasarnya/ bakatnya

2. Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme

Dikatakan demikian karena disekolah ini menerapkan pengajaran efektif yaitu apabila memperlakukan peserta didik sebagai keseluruhan dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dihubungkan dengan bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.

Sekolah menuntut pembelajaran aktif, guru menyediakan kemungkinan agar peserta didik memiliki pengalaman melalui belajar dengan praktek.

Karena aliran ini menuntut individu berada pada suatu keadaan yang selalu berubah secara terus-menerus dan pendidikan merupakan wahana yang memungkinkan masa depan yang lebih baik sari masa sebelumnya. Sehingga sekolah dapat mlebih maju.

Dalam praktek pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan disekolah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada peserta didik untuk menentukan pengalaman-pengalaman yang tepat dalam belajar sperti : kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil, simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan aktivitas lainnya yang menimbulkan pengalaman yang berharga pada peserta didik yang dapat digunakan pada masa yang akan datang. Dapat dikatakan bahwa, pengalaman belajar memcahkan atau mengatasi permasalahan pada usia dini, merupakan persiapan dan sekaligus modal yang terbaik untuk hidup menghidupi kehidupan masa depan.

Guru di sekolah SMK Negeri 2 berperan sebagai pembimbing dan fasilitator agar peserta didik terdorong dan terbantu untuk mempelajari dan memiliki pengalalaman tentang hal-hal yang penting bagi kehidupan mereka.

Guru atau pendidik harus memfasilitasi peserta didik agar memiliki kesempatan yang luas untuk bekerja sama atau kooperatif di dalam kelompok, memcahkan masalah dipandang penting oleh kelompok bukan oleh guru, dan dalam kelompoknya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dengan adanya aliran filsafat pendidikan menunjukkan bahwa begitu pentingnya aliran filsafat pendidikan itu terhadap pendidikan. Sehingga dapat tercermin bagaimana tujuan pendidikan yang digunakan, metode, peran guru, kurikulum serta status peserta didik di sekolah.

Dengan banyaknya aliran-aliran dalam ranah filsafat bukan berarti akan membuat semakin tidak jelasnya konstruksi filsafat pendidikan. Akan tetapi dalam masing-masing aliran dapat menghasilkan titik temu yang harmonis, yang fungsinya guna mendapatkan gambaran filsafat pendidikan yang harmonis dan etis serta mempunyai nilai tawar yang lebih baik

B. Saran

Karena masih banyaknya aliran-aliran filsafat pendidikan yang mempunyai kelemahan-kelemahan sehingga kadang-kadang sulit untuk menentukkan aliran mana yang dipakai di sekolah tertentu karena belum ada aliran yang sempurna dan aliran filsafat akan berubah terus menerus. Demikianlah Kesimpulan dan saran yang dapat dipaparkan.

Daftar Bacaan

Hadiwiyono,Harun,1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius.

Hamersma,Harry,1984, Tokoh-Tokoh Filsafat Modern, Jakarta, PT Gramedia.

Mudhofir,Ali,1988, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, Yogyakarta, Liberty.

Sudiarja,A, 2001, Pendidikan Radikal Tapi Dialogal, Basis No.01-02, Tahun ke-50, Januari-Februari, Yayasan BP Basis, Yogyakarta.

Sunarto, 2003, Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer: Kritik Atas Manusia Modern, dalam Epistemologi Kiri, (ed) Listiyono S, Sunarto, Abd, Qadir Shaleh, Penerbit AR RUZZ, Yogyakarta

Tjaya, Thomas Hidya,2004, Mencari Orientasi Pendidikan, Sebuah Perspektif Historis, Jakarta, Kompas 4 Februari 2004.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 November 2009 in 1

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: